Salah seorang calon frachisee yang sedang memilih-milih usaha franchise untuk dibeli menanyakan kepada saya: “Seperti apa sih sebenarnya franchise yang benar itu?.. Mengapa saya ditawari usaha franchise tetapi sistemnya berbeda-beda antara satu usaha franchise dengan usaha franchise yang lain?”. Pertanyaan yang memang selalu muncul di dalam hati, kenapa ya kok berbeda-beda?

Franchising pada dasarnya adalah salah satu sistem pemasaran dengan memberikan kesempatan kepada pelaku duplikat usaha untuk menjalankan usahanya secara mandiri. Kemandiriannya terutama pada kepemilikan unit (badan) usaha dan harta usahanya (seperti barang dagangan, uang hasil penjualan, dsb). Dengan demikian sebenarnya cukup mudah untuk mengidentifikasikan sistem franchise; jika ada usaha franchise dengan konsep bahwa unit usaha atau harga usahanya juga dimiliki oleh franchisor (pemberi/penjual franchise), misalnya bagaimana cara mengelola keuangan, mengelola barang dagangan, melakukan cara pemayaran, dsb.

Dari kegiatan konsultasi franchise, mengikuti berbagai konfrensi dan mendiskusikan beberapa litaratur, kami menarik kesimpulan mengenai ciri usaha franchise yang ada di Indonesia :

1. Memberikan kesempatan mandiri; apakah franchisor memberikan kesempatan mandiri franchisee-nya? Bila jelas kemandiriannya, maka ada kemungkinan itu adalah sistem franchise.

2. Berhak menggunakan nama dan jaringan; pada umumnya franchisor akan memberikan beberapa hak kepada para franchisee-nya, terutama sekali adalah Nama Usaha. Karena nama usaha merupakan salah satu tujuan dan kekuatan sistem franchise yang dipilih oleh franchisor untuk diterapkan. Kesempatan menggunakan jaringannya adalah kesempatan yang diberikan oleh franchisor kepada franchisee-nya untuk memanfaatkan siplier, relasi, fasilitas, dan lain sebagainya untuk menunjang suksesnya usaha franchisee.

3. Mendapatkan dukung pemasaran yang berkesinambungan; franchising adalah sistem pemasaran yang tentunya harus melakukan aktifitas pemasarannya secara dinamis. Mengapa kita tidak membuka sendiri saja usaha kita? Karena dengan sistem franchise kita yang tidak paham mengenai marketing akan mendapatkan bimbingan dan dukungan. Setelah dilihat pada pelaksanaannya, sistem franchise mempunyai komitmen untuk melakukan dukunga pemasara yang berkesinambungan.

4. Dilandasi dengan perjanjian; berbeda dengan peluang usaha (business opportunity), franchising menuntut kerjasama yang berkesinambungan. Pemahaman atas sistem usaha yang dilaksanakan kedua belah pihak (franchisor dan franchisee) mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mensukseskan usaha dengan Nama yang sama. Maka dengan situasi di atas, kerjasama ini perlu dilandasi dengan Perjanjian. Di Indonesia Perjanjian tersebut wajib tertulis (bukan hanya lisan).

Saat ini pemerintah sudah mulai melihat pentingnya kriteria yang khusus untuk menetapkan bahwa suatu usaha dapat dikatakan menggunakan sistem franchise. Dari diskusi saat lokakarya bersama pemerintah, ada wawasan bahwa kriteria sistem franchise yang akan dilihat oleh pemerintah meliputi :

a| memiliki ciri khas usaha;

b| terbukti sudah memberikan keuntungan;

c| memiliki standar atas pelayanan dan barang dan atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis;

d| mudah diajarkan dan diaplikasikan ;

e| adanya dukungan yang berkesinambungan; dan

f| Hak Kekayaan Intelektual yang telah terdaftar.

Sehingga saat ini, kita sudah dapat mengkaji sendiri, apakah usaha franchise yang akan kita beli sudah mempunyai sistem franchise yang sesuai dengan kriteria yang berlaku?.

taken from: Burang Riyadi, MBA – International Franchise Business Management (IFBM)