Ga selamanya hasil tes IQ bisa dijadikan acuan; bahwa si A lebih pintar karena IQ nya lebih tinggi dari si B. Yang karena hal itu akhirnya si B justru akan makin surut dan tenggelam karena tekanan psikologisnya sendiri bahwa “Saya lebih bodoh” .. and even worse, it become “Saya bodoh”. Sungguh menyedihkan kan?!

Selain karena saya juga mengalami hal yang sama saat SMU dulu bahwa nilai tes IQ saya relatif lebih rendah dibanding teman-teman “se-geng” saya, tapi saya membuang hasil tes itu dan membuktikan bahwa itu cuma kertas, dan bukti nyatanya adalah hasil di masa depan. Tapi saya ada cerita yang saya pikir lebih menarik untuk diceritakan ketimbang kisah saya, yang saya kutip dari sebuah buku karangan Tony Buzan “Mind Map” yang cukup inspiratif dan membuat saya makin semangat mewujudkan masa depan!

Richard Branson….

Richard Branson bukan murid yang cerdas ketika bersekolah, seperti yang mungkin kita semua kira – ia menderita disleksia parah dan berjuang keras selama menempuh pendidikan akademisnya, ia merasa malu akan kekurangannya dalam membaca sehingga menghabiskan berjam-jam menghafal setiap kata dari teks bila ia tahu ia harus membaca di depan umum. Nilai tingkat kecerdasannya (IQ) rendah dan bagi guru-gurunya jelas ia bukan siswa yang pandai.

Bagaimana Richard Branson beranjak dari posisi yang tidak menjanjikan semasa kanak-kanak menjadi seorang otak besar di belakang 150 perusahaan yang membawa nama Virgin, dengan kekayaan pribadi yang diperkirakan sekitar 3 miliar poudsterling?

Yang gagal diukur oleh tes kecerdasan (IQ) adalah ambisinya yang menyala-nyala, yang mendorongnya menemukan jalan keluar kreatif terlepas dari apapun masalahnya, dan untuk tekun bertahan manakala orang lain telah menyerah jauh sebelumnya. Tes-tes itu juga tidak pernah mengenali kemampuannya membagi visi dan impiannya kepada orang lain, dan meleburkan impian mereka dengan impiannya.

Seagai remaja, Richard Branson menjadi semakin frustasi (seperti semua orang kreatif lainnya!) karena kekakuan aturan sekolah. Tindakan pemberontakan kreatif pertamanya adalah memulai koran siswanya sendiri.

Bagaimana bisa seorang disleksia memulai sebuah koran?

Ya!.. Cara orisinil yang digunakan Branson untuk mengarahkan korannya adalah ia tidak memfokuskan pada sekolah, tetapi memutuskan mengambil pandangan yang sebaliknya dan berfokus pada siswa. Daripada koran standar yang membosankan, Richard menginginkan korannya penuh warna dan semarak, yang menarik bagi setiap orang, terutama perusahaan-perusahaan besar yang akan membeli iklannya.

Branson memutuskan tampil beda, bukan dengan saja mengundang siswa wartawan, tetapi juga mengundang bintang musik rock, selebritim film, “nama-nama” kreatif, dan bintang olah raga untuk menyumbang artikel.

Tetapi Richrad dan teman editornya, Johnnie Gems, bukan memulai tanpa uang. Mereka mempunyai 4 poudsterling untuk menutup biaya pos dan telepon, yang disumbang oleh ibunya! Kedua remaja ini bekerja di lantai bawah rumah Branson dan berusaha sehemat mungkin – tetapi bukan menghemat impian kreatif besar kreatif besar mereka, yang tetap menjadi daya dorong mereka.

Kepala sekolah Richard (yang jelas mulai mengenali bahwa tes IQ bisa keliru), suatu hari berkata padanya, “Selamat Branson. Saya meramalkan kamu akan masuk penjara atau menjadi jutawan.”

Mulai saat itu, Branson mengembangkan ide orisinalnya, memulai perusahaan-perusahaan baru, menciptakan produk-produk baru, memunculkan ide-ide baru, dan terus menarik baahankan bagi impian orang lain. Perusahaan penerbangannya, Virgin Airlines, adalah contoh kesempurnaan kreativitasnya. Bukan ikut-ikutan memotong harga tiket dan mengurangi layanan, ia justru memutuskan membalik pemikiran normal, dengan mempertahankan harga tiket tetapi menambah layanan, yang termasuk ide-ide yang sangat orisinal seperti pesan-pesan selama penerbangan, es krim dan film, shower, sarana olah raga, dan kamar tidur pribadi.

Richard Branson sendiri yang dikenal sebagai orang yang flamboyan, penuh warna dan sangat kreatif, mengaitkan keberhasilkannya pada kemampuannya untuk memunculkan dan mengikuti visi-visi kreatif, dan kemampuannya mengenal hal yang sama dalam diri orang lain serta mengajak mereka bersama-sama sebagai tim, mengejar impian mereka.

…….

Jadi, buang hasil tes IQ kalian… karena itu hanya kertas! dan bukan hasil di masa depan …