“Suatu ketika, Fulan datang ke Gurunya, dengan membawa keluh kesah cerita hidupnya, “Ya Guru, hidupku sedang buruk sekali, aku tertimpa masalah banyak sekali, aku pusing, hatiku gundah. Kenapa semua masalah ini datang secara beruntun? Motorku hilang kemalingan, lalu kudapati istriku selingkuh, anakku tidak kelas, dan kemarin aku baru saja kecopetan. Sial sekali hidupku! Apa yang harus ku lakukan ya Guru? Apakah Tuhan membenciku?”…”

“Si Guru kemudian tersenyum dan berkata, “Sabar, mintalah ampun pada-Nya…”. sontak Si fulan membalas, “Sabar? untuk masalah sebanyak dan sebesar ini!.. Ini terlalu berat untuk sekedar sabar…Guru””

“Saya tau, coba kamu ke dapur…Ambil segelas air dan satu sendok makan garam..aduklah”. Si fulan mengikuti perintah Guru untuk ke dapur. Setelah garam itu diaduk, disodorkannya ke Guru. “Sudah Guru, ini airnya..”

“Guru berkata, “minumlah, apa rasanya?..”…”Tentu saja rasanya asin!!!”…”

“Bagus, kamu tau itu…”, kata Guru”

“Guru kemudian melanjutkan. “Di gudang sana ada satu karung garam kamu bawa ke kolam yang ada di depan rumah… Tuang semua garam itu, dan aduk. Setelah itu coba cicipi bagaimana rasa airnya?””

“Si Fulan dengan malas tetap mengikuti perintah Gurunya itu, dia mengambil sekarung besar garam yang kemudian di aduk di kolam depan rumah Gurunya. Setelah diaduk, dia mencicipi sedikit rasa air dan ternyata rasa asin di air tersebut hampir-hampir tidak terasa. “Guru, aku sudah lakukan dan rasanya tidak asin…””

“Jika garam itu adalah perumpamaan sebuah masalah, sedangkan air adalah perumpamaan hatimu. Berarti manakah yang salah? Jelaslah bukan masalah yang menjadi masalah, tapi hati lah yang menjadi masalah. Maka, lapangkanlah hatimu selapang-lapangnya, pastilah masalah itu akan terasa lebih ringan. Dengan hati yang lebih ringan menerima masalah, pikiran bisa berpikir lebih jernih, dan jalan keluar semua masalahmu bisa terlihat lebih jelas”….