Alow teman-teman semua, susah rasanya mulai menulis lagi…sebulan kemarin saya cuman posting sekali, bukan karena males buat ngetik tapi karena emang lagi sibuk. Selain ngejar deadline untuk Overhaul PLTU unit 2 Muara Karang, juga karena ngerjain utang kerjaan di PLTU unit 3. Boiler Feed Pump unit 3 rusak lagi setelah (kira-kira) 24 jam operasi (setelah dinyatakan OK oleh tim penguji vibrasi dan ppara operator) gara-gara material part hasil perbaikan dari Sub-kon ngga bagus. Ngebuat poros Boiler Feed Pump jadi bengkok hingga 0,50 mm. Karena itu, selama seminggu justru saya yang dimintai tolong oleh Sub-kon untuk bantu meluruskan poros itu, karena mereka ngga tau caranya..hehehe..rahasia dong..!

Tapi sudah lah, disini saya mau cuap-cuap “sok tau” tentang boiler lagi..ya, semoga aja bermanfaat….

Lanjutan dari posting Sekelumit Tentang Boiler PLTU (1)

Siklus Bahan Bakar

Dari kapal tangker, minyak dipindahkan dan disimpan di bunker minyak, dibedakan antara bunker minyak HSD atau IDO (High Speed Diesel/Industrial Diesel Oil) dan MFO (Marine Fuel Oil/Minyak Residu). Untuk PLTU #4 dan #5, hanya menggunakan HSD. LP Fuel Pump (Low Pressure) mengalirkan bahan bakar menuju ruang bakar pada Boiler, tapi dilewatkan dulu di Fuel Heater untuk menaikkan temperatur bahan bakar.  HP Fuel Pump (High Pressure) yang berjenis pompa ulir (Positive Displacement), menaikkan tekanan bahan bakar menuju Burner Boiler.

Burner Pada Boiler PLTU #4 dan #5 Muara Karang terbagi menjadi 4 elevasi, dimana tiap elevasinya terdapat 4 Gun Burner di tiap sudut nya; corner A, B, C dan D. Gambar di bawah ini sebagai ilustrasinya.

ilustrasi ruang bakar

ilustrasi ruang bakar

Di boiler tipe ini, atomizing bahan bakar tidak dilakukan oleh udara atau auxilliary steam, tapi secara mekanis berupa mengkondisikan bahan bakar yang masuk ke pipa Gun Burner pada tekanan ?…..? dan melepaskannya dalam bentuk spray, sedangkan arah api diatur oleh sistem burner tilting, damper udara. Tapi saya tidak akan menjelaskan sistem burner tilting dan damper udara disini, terlalu panjang… mungkin nanti saja di page lain🙂.

Beberapa Igniter membuat percikan api awal, sehingga terjadi kobaran api, perpaduan antara bahan bakar dan udara bakar diatur jumlahnya sedemikian rupa hingga mendekati pembakaran sempurna (Ingat teori pembakaran? sempurna berarti emisi berupa CO2 dan H2O, diindikasikan dari asap sisa pembakaran). Mengapa pembakaran harus sempurna? karena sebagai efisiensi penggunaan bahan bakar, menekan biaya produksi (70% biaya produksi listrik adalah bahan bakar!). Kobaran api  diarahkan pada sudut tertentu sehingga terbentuk fireball (bola api) di tengah-tengah ruang bakar, menciptakan panas yang maksimal tanpa merusak tube-tube downcomer (Insya Allah ini akan saya ceritakan lebih lanjut di bagian-bagian boiler).

Siklus Udara Bakar (2)

Sebagai lanjutan dari Siklus Udara Bakar posting sebelumnya. Gas sisa pembakaran dinamakan Flue Gas. Dari ruang bakar, flue gas mengalir menuju cerobong berupa natural flow, alias mengalir secara alami sesuai perbedaan tekanan ruang bakar dan udara bebas . Flue Gas yang masih panas dimanfaatkan kembali dengan proses heat exchanger (pertukaran panas) di area superheater (berfungsi untuk menaikkan temperatur uap pemutar turbin menjadi “uap panas lanjut”), dan  di area economizer (berfungsi untuk menaikkan temperatur air pengisi boiler, sebagai usaha peningkatan efisiensi siklus PLTU). Setelah itu, flue gas dimanfaatkan oleh GR Fan (Gas Recirculating Fan), dimana sebagian volume flue gas dihembuskan kembali ke dalam ruang bakar. Kemudian Flue Gas dimanfaatkan di area Air Heater, yang fungsinya sudah dijelaskan di posting sebelumnya. Setelah itu flue gas dibuang ke udara bebas melalui cerobong.

skema boiler #4 dan #5 PLTU muara karang

skema boiler #4 dan #5 PLTU muara karang

Flue gas yang dilepas ke udara bebas memiliki beberapa syarat, yaitu temperatur keluar, jumlah kandungan O2, serta emisi-emisi yang terkandung. Temperatur dijaga sehingga saat keluar dari cerobong tetap di atas dew point sulfur, atau temperatur dimana sulfur mencair dan membeku. Karena sulfur yang terkandung pada flue gas jika mencair akan mmenempel dan membeku pada gas duct (ruang laluan gas) akan menyebabkan korosi. Dan emisi tetap dijaga dengan penggunaan dust collector dan pengkondisian pembakaran yang sempurna.